Guyv7L2vSNhTu9NNIC4AGodmAsDGZpqzql8qRx1N
Bookmark

6 Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad dan Mukjizat Perlindungan Ilahi

Kisah 6 upaya pembunuhan Nabi Muhammad SAW yang gagal berkat mukjizat perlindungan Allah. Simak konspirasi dan sejarah lengkapnya di sini!

Sebuah kolase ilustrasi detail yang menggambarkan berbagai adegan sejarah Islam. Kiri atas: Tetua berdiskusi, dan tangan gaib melindungi seseorang yang tidur di ranjang Nabi saat pembunuh bersiap menyerang. Tengah: Seorang penunggang kuda dan kudanya terperosok di pasir, dan sebuah batu jatuh ke bangku kosong. Kanan: Seseorang berlutut di depan pintu api dengan pedang. Kiri bawah: Seseorang berlutut di bawah cahaya wahyu. Tengah bawah: Perjamuan dengan daging domba panggang dan tulang yang berbicara. Kanan bawah: Seorang tentara jatuh di dekat cahaya surgawi dengan dua pedang di tanah.

Selamat datang di blog 'Nabi Muhammad' (https://www.nabimuhammad.id/).😊 Ini adalah artikel pertama yang saya tulis di blog ini. Di sini saya akan menjelaskan tentang 6 upaya pembunuhan Nabi Muhammad dan mukjizat perlindungan Ilahi. Penjelasan ini berdasarkan data yang saya ambil dari buku al-Ightiyâlât fî al-Islâm: Ightiyâlu ash-Shahâbah wa at-Tâbi’în karya Hasan Abdullah. Anda bisa menemukannya di bagian referensi.

Pendahuluan: Beratnya Ujian dalam Perjalanan Dakwah Nabi Muhammad

Dakwah Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam tidak pernah lepas dari ujian dan ancaman fisik yang sangat nyata. Sejarah Islam merekam berbagai konspirasi terstruktur yang dirancang untuk mengakhiri hidup utusan Allah tersebut. Ancaman ini datang secara bertubi-tubi dari berbagai pihak, mulai dari pemuka musyrikin Quraisy di Makkah, hingga konspirasi dan pengkhianatan kaum Yahudi di Madinah serta Khaybar.

Artikel ini akan membedah secara rinci enam peristiwa nyata upaya pembunuhan Nabi Muhammad berdasarkan teks-teks sejarah. Seluruh konspirasi tersebut pada akhirnya gagal karena adanya perlindungan mutlak dari Allah SWT melalui perantara wahyu, malaikat, hingga mukjizat yang membuktikan kerasulan beliau.

Tabel Rincian 6 Upaya Pembunuhan Terhadap Nabi Muhammad

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel detail mengenai pihak-pihak yang terlibat, metode eksekusi, hingga mukjizat penyelamatan dalam keenam peristiwa tersebut:

NoLokasi dan WaktuEksekutor / Aktor IntelektualMetode Pembunuhan yang DirencanakanMukjizat / Cara PenyelamatanAkhir Peristiwa
1.Makkah (Sebelum Hijrah)Pemuka Quraisy dan Iblis (Lelaki Tua dari Najd)Tebasan pedang serentak oleh pemuda dari seluruh kabilah ArabWahyu via Jibril, Ali menggantikan Nabi Muhammad, kebutaan sesaat musuhNabi Muhammad lolos, musuh hanya mendapati debu di kepala mereka
2.Perjalanan HijrahSuraqah bin Malik bin Ju'syumPengejaran berkuda untuk sayembara 100 ekor untaKuda Suraqah terperosok berkali-kali ke dalam tanahSuraqah menyerah, meminta jaminan keamanan, lalu masuk Islam
3.Pemukiman Bani an-Nadhir'Amr bin Jihasy dan Kaum Yahudi NadhirMenjatuhkan sebongkah batu besar dari atas atap rumahBerita wahyu dari langit yang menyuruh Nabi Muhammad segera pergiBani an-Nadhir dikepung 6 malam dan diusir dari Madinah
4.Madinah (Usai Perang Badar)'Umair bin Wahb dan Shafwan bin UmayyahMenyusup ke masjid dengan pedang beracun dalih menebus tawananNabi Muhammad mengungkap detail percakapan rahasia pelaku'Umair bersyahadat dan menjadi pendakwah Islam di Makkah
5.Khaybar (Usai Penaklukan)Zainab binti Al-Harits (Wanita Yahudi)Menghidangkan daging domba panggang (bagian paha) yang diracunTulang domba berbicara memberitahu Nabi Muhammad bahwa ia diracunNabi Muhammad meludahkan daging, sahabat Bisyr wafat, pelaku dihukum
6.Perang Dzat ar-Riqa'Ghawrats (Pria Bani Muharib)Mengambil pedang Nabi Muhammad dan bersiap menebas beliau saat istirahatPerlindungan langsung dari Allah yang menjatuhkan pelakuTurunnya QS. Al-Ma'idah: 11 tentang perintah bertawakal

Penjabaran Detail 6 Upaya Pembunuhan Rasulullah

1. Konspirasi Pemuka Quraisy di Dar an-Nadwah

Upaya ini merupakan salah satu konspirasi paling terstruktur dari kaum Quraisy sebelum Rasulullah hijrah.

Latar Belakang dan Kehadiran Iblis

Kaum Quraisy menyadari bahwa umat Islam telah mendapatkan perlindungan dan kelompok pendukung di luar Makkah, sehingga mereka bergegas merencanakan pembunuhan Nabi Muhammad sebelum beliau menyusul para sahabatnya. Para pemuka Quraisy (termasuk Abu Jahal, Abu Sufyan, Umayyah bin Khalaf, dll) berkumpul di Dar an-Nadwah (rumah Qushay bin Kilab). Pada hari yang disebut sebagai Hari Kasih Sayang tersebut, Iblis ikut bergabung dengan menyamar sebagai seorang lelaki tua terhormat berpakaian batt (hijau tebal) yang mengaku sebagai lelaku tua dari penduduk Najd.

Perdebatan Rencana Pembunuhan

Di dalam musyawarah, muncul beberapa usulan:

  1. Mengurung dengan Belenggu Besi: Usulan ini ditolak mentah-mentah oleh lelaku tua dari Najd (Iblis) karena dikhawatirkan para sahabat Nabi Muhammad akan menyerang dan membebaskannya.
  2. Mengasingkan dari Makkah: lelaku tua dari Najd kembali menolak, karena pesona tutur kata Nabi Muhammad bisa menaklukkan kabilah Arab lainnya untuk kemudian berbalik menyerang Makkah.
  3. Tebasan Serentak Berbagai Kabilah: Abu Jahal mengusulkan agar mereka memilih satu pemuda tangguh dari setiap kabilah, membekali mereka dengan pedang, lalu menebas Nabi Muhammad secara bersamaan. Tujuannya agar Bani Abd Manaf tidak mampu menuntut balas terhadap seluruh kabilah Arab dan terpaksa menerima uang diyat (tebusan darah). lelaku tua dari Najd sangat menyetujui rencana brilian ini.

Mukjizat Penyelamatan dan Pengorbanan Ali

Malaikat Jibril turun membawa wahyu dan melarang Nabi Muhammad tidur di ranjangnya malam itu. Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur menggantikannya menggunakan selimut hijau dari Hadramaut milik Nabi. Saat pengepung berkumpul, Abu Jahal sempat mengejek ajaran Islam. Nabi kemudian keluar, mengambil segenggam debu, dan Allah membutakan penglihatan mereka. Sambil menaburkan debu ke kepala para pengepung, Nabi membacakan ayat 1-9 dari Surah Yasin. Para pembunuh itu baru menyadari kegagalan mereka saat pagi hari ketika melihat Ali yang bangun dari tempat tidur tersebut.

2. Pengejaran Suraqah bin Malik demi Sayembara 100 Unta

Saat Rasulullah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, kaum Quraisy mengadakan sayembara besar: 100 ekor unta bagi siapa saja yang mampu membawa Muhammad kembali, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Ambisi Suraqah dan Undian Panah

Suraqah bin Malik bin Ju'syum mendengar laporan adanya tiga orang pengendara di pesisir pantai. Untuk mengelabui orang lain, ia berkata bahwa rombongan itu hanyalah orang yang mencari hewan ternak hilang. Sesampainya di rumah, ia menyiapkan kuda, senjata, dan mengundi nasib dengan anak panah (qidahi). Meskipun hasil undiannya melarang, ambisinya mendapatkan 100 ekor unta mengalahkan keyakinannya.

Kuda yang Terperosok ke Tanah

Suraqah memacu kudanya dengan kencang mengejar Nabi Muhammad. Namun, tiba-tiba kudanya terperosok hingga ia terjatuh. Ia mengundi panah lagi, hasilnya tetap melarang, namun ia tetap bersikeras mengejar. Saat ia kembali memacu kudanya, kaki depan kuda itu terbenam ke dalam tanah hingga debu yang menyerupai asap putih membubung tinggi. Peristiwa ini menyadarkan Suraqah bahwa Muhammad benar-benar dilindungi. Ia pun meminta jaminan keamanan, yang kemudian dituliskan oleh Abu Bakar, dan kelak Suraqah masuk Islam.

3. Pengkhianatan Yahudi Bani an-Nadhir di Madinah

Upaya ketiga ini terjadi di Madinah dan melibatkan intrik diplomasi berdarah.

Alasan Kedatangan Nabi Muhammad

Rasulullah datang ke pemukiman Bani an-Nadhir untuk meminta bantuan pembayaran diyat (uang tebusan) atas dua orang yang tidak sengaja dibunuh oleh 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri. Hal ini merupakan kewajiban bersama sesuai perjanjian perlindungan yang mengikat antara Nabi Muhammad dan kaum Yahudi tersebut.

Konspirasi Sebongkah Batu

Meski di hadapan Nabi Muhammad mereka menyanggupi, secara rahasia kaum Yahudi merencanakan pembunuhan karena melihat Nabi sedang duduk bersandar di dinding salah satu rumah mereka. Seorang pria bernama 'Amr bin Jihasy bin Ka'ab menawarkan diri untuk memanjat ke atas atap rumah dan menjatuhkan sebongkah batu ke atas kepala Nabi untuk mengakhiri hidupnya.

Wahyu dari Langit dan Pengusiran

Sebelum rencana itu terlaksana, wahyu turun memberitahukan konspirasi tersebut kepada Nabi Muhammad. Beliau langsung bangkit dan kembali ke Madinah meninggalkan para sahabat (Abu Bakar, Umar, Ali). Setelah para sahabat menyusul dan mengetahui pengkhianatan ini, Nabi memerintahkan pengepungan selama enam malam terhadap Bani an-Nadhir, yang berujung pada pengusiran mereka dari Madinah. Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Hasyr ayat 2-3.

4. Rencana Rahasia 'Umair bin Wahb Usai Perang Badar

'Umair bin Wahb al-Jumahi adalah sosok yang dikenal sebagai penjahat kabilah Arab yang kerap melakukan pengkhianatan.

Kesepakatan di Hijr Ismail

Pasca kekalahan musyrikin di Perang Badar, 'Umair duduk meratapi nasib bersama Shafwan bin Umayyah di dekat Ka'bah (Hijr Ismail). 'Umair mengeluhkan hutang dan keluarganya yang tidak terurus. Shafwan menawarkan kesepakatan rahasia: ia akan melunasi hutang dan menanggung keluarga 'Umair, asalkan 'Umair pergi membunuh Muhammad. 'Umair menggunakan kedok ingin menebus anaknya yang ditawan sebagai alibi keberangkatannya ke Madinah.

Interogasi di Madinah

Tiba di Madinah dengan pedang yang dikalungkan di leher, gerak-gerik 'Umair dicurigai oleh Umar bin Khattab. Umar memegang erat tali pedang 'Umair saat membawanya menghadap Nabi Muhammad. Nabi meminta Umar melepaskannya dan mulai menginterogasi 'Umair. 'Umair terus berbohong bahwa kedatangannya murni untuk urusan tawanan dan ia mengutuk pedang-pedang yang tidak memberi manfaat.

Tersingkapnya Rahasia

Rasulullah kemudian membeberkan secara rinci percakapan rahasia antara 'Umair dan Shafwan di Hijr Ismail—sebuah percakapan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain mereka berdua. Terperanjat oleh mukjizat luar biasa ini, 'Umair bersyahadat memeluk Islam di saat itu juga. Ia kemudian kembali ke Makkah dan berhasil mengislamkan banyak penduduk di sana, membuat Shafwan bin Umayyah sangat murka dan bersumpah tidak akan pernah berbicara dengannya lagi.

5. Racun Wanita Yahudi di Khaybar

Upaya pembunuhan ini terjadi usai penaklukan benteng-benteng pertahanan Khaybar seperti Al-Wathih dan As-Salalim. Nabi berdamai dengan penduduk Yahudi di sana dengan sistem bagi hasil lahan pertanian.

Domba Panggang Beracun

Seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti Al-Harits (istri Sallam bin Misykam) mencari tahu makanan favorit Nabi. Mengetahui bahwa beliau menyukai daging kambing/domba bagian paha depan (Zira'), ia membubuhkan racun dalam jumlah besar di bagian tersebut dan menghidangkannya kepada Nabi.

Tulang yang Berbicara

Rasulullah mengambil bagian paha depan tersebut dan menggigitnya satu gigitan, namun tidak menelannya. Beliau meludahkan daging tersebut dan bersabda bahwa tulang domba itu memberitahunya bahwa ia telah diracun. Sayangnya, sahabat Bisyr bin Al-Bara' yang ikut makan menelan daging tersebut hingga akhirnya wafat. Saat diinterogasi, Zainab binti Al-Harits mengaku ingin menguji apakah Muhammad sekadar raja atau seorang Nabi sungguhan. Terdapat perbedaan riwayat mengenai nasib Zainab: sebagian menyebutkan Nabi memaafkannya, sementara riwayat lain menegaskan ia dibunuh (qishash) karena telah menyebabkan kematian Bisyr.

6. Ancaman Pedang Ghawrats pada Perang Dzat ar-Riqa'

Peristiwa ini terjadi di medan Perang Dzat ar-Riqa' dan menunjukkan keyakinan tingkat tinggi (tawakkal) dari seorang utusan Allah.

Penyergapan saat Istirahat

Seorang pria dari Bani Muharib yang bernama Ghawrats menawarkan diri kepada kaumnya untuk membunuh Muhammad. Ia menyusup dan mendekati Nabi yang sedang duduk beristirahat, sementara pedang Nabi berada di pangkuannya (atau digantungkan di dahan pohon). Ghawrats mengambil pedang tersebut, menghunusnya, dan dengan pongah bertanya, "Wahai Muhammad, apakah engkau tidak takut padaku?".

"Allah Akan Melindungiku"

Rasulullah dengan sangat tenang menjawab, "Tidak. Allah akan melindungiku darimu.". Perkataan ini menggoyahkan nyali Ghawrats, dan Allah menggagalkan serangannya hingga pedang itu terjatuh. Nabi kemudian merebut kembali pedang tersebut. Peristiwa penahanan tangan musuh secara gaib ini menjadi asbabun nuzul (sebab turunnya) Surah Al-Ma'idah ayat 11, yang memerintahkan kaum mukminin untuk selalu mengingat nikmat perlindungan Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Kesimpulan: Hikmah dan Ibrah dari Penjagaan Allah atas Utusan-Nya

Enam catatan sejarah dari dokumen Sirah Nabawiyah di atas memberikan bukti yang tak terbantahkan mengenai perlindungan mutlak Allah kepada kekasih-Nya. Rencana pembunuhan disusun secara sistematis oleh konspirator ulung—mulai dari kepungan pemuda bersenjata dari seluruh kabilah, sabotase batu dari atap rumah, hingga hidangan daging beracun. Namun, segala bentuk makar fisik dan tipu daya selalu dipatahkan melalui campur tangan langit.

Hal ini menjadi ibrah (pelajaran) bahwa sehebat apa pun makar manusia, ia tidak akan mampu menembus takdir dan penjagaan Allah. Kekuatan tawakkal Rasulullah—yang paling terlihat saat beliau tidak gentar sedikit pun meski diancam dengan pedang yang terhunus—mengajarkan umat Islam bahwa pelindung sejati dalam setiap urusan kehidupan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

Referensi

Seluruh kisah dan rentetan sejarah mengenai upaya pembunuhan Nabi Muhammad beserta mukjizat perlindungan Allah yang dijabarkan dalam artikel ini diterjemahkan dan dirujuk langsung dari kitab sejarah berbahasa Arab berikut:

Hasan Abdullah, al-Ightiyâlât fî al-Islâm: Ightiyâlu ash-Shahâbah wa at-Tâbi’în, al-Intisyar al-Arabi, tanpa keterangan kota, 2006, Hal. 9-19.

Referensi autentik ini menjadi bukti kuat dari rekam jejak perjuangan dakwah Islam dan penjagaan Ilahi pada masa kenabian.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Mengapa Iblis menyamar sebagai lelaki tua dari Najd dalam musyawarah kaum Quraisy?

Iblis menyamar sebagai lelaki tua dari wilayah Najd agar ia tidak dicurigai oleh pemuka Quraisy di Makkah, sekaligus memposisikan dirinya sebagai orang luar yang bijak untuk memberikan pengaruh atas keputusan mereka menyingkirkan Nabi. Ia berhasil menolak usulan pemenjaraan dan pengasingan, lalu melegitimasi usulan pembunuhan massal ala Abu Jahal.

2. Siapa yang tidur di ranjang Nabi Muhammad pada malam pengepungan Quraisy?

Ali bin Abi Thalib diperintahkan oleh Nabi Muhammad untuk tidur di ranjang beliau dengan menggunakan selimut hijau dari Hadramaut milik Nabi. Hal ini mengecoh para pemuda pembunuh yang mengira sosok yang berselimut itu adalah Nabi.

3. Apa hukuman bagi Bani an-Nadhir atas rencana pembunuhan dengan batu?

Setelah mengetahui niat buruk mereka dari wahyu, Nabi Muhammad menginstruksikan kaum muslimin untuk mengepung permukiman Bani an-Nadhir selama enam malam, yang kemudian berujung pada pengusiran (ekstradisi) mereka dari kota Madinah.

4. Apakah seluruh pihak yang mencoba membunuh Nabi Muhammad berakhir dengan kematian?

Tidak. Beberapa tokoh yang berencana membunuh Nabi Muhammad justru mendapatkan hidayah dan memeluk agama Islam setelah melihat langsung mukjizat beliau. Contoh nyatanya adalah Suraqah bin Malik yang kudanya terperosok, serta 'Umair bin Wahb yang percakapan rahasianya dibongkar oleh Nabi.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar