Guyv7L2vSNhTu9NNIC4AGodmAsDGZpqzql8qRx1N
Bookmark

Biografi Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Sirah Nabawiyah dan Sifat Fisik

Pelajari biografi terlengkap Nabi Muhammad SAW, sirah nabawiyah, mukjizat, hingga keindahan sifat fisik beliau yang sempurna secara mendalam.

Ilustrasi pemandangan perjalanan sejarah Islam yang menampilkan Gua Hira yang bercahaya, Kakbah di kota suci Makkah, rute kafilah di gurun pasir, hingga kemegahan Masjid Nabawi di Madinah. Gambar ini secara visual merepresentasikan ringkasan Sirah Nabawiyah dan biografi perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

Mempelajari Sirah Nabawiyah atau lembaran sejarah hidup Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keniscayaan, keutamaan, sekaligus pencerahan batin bagi umat Islam di seluruh dunia.

Artikel ini disadur dari buku "Al-Kawâkib ad-Durriyyah fî Tarâjumi as-Sâdah ash-Shufiyyah", karya Muhammad Abdurrauf al-Munawi. Penjelasan lebih lanjut tentang referensi bisa Anda temukan di bagian akhir artikel.

Mengenal perjalanan hidup beliau bukan sekadar membaca rentetan peristiwa masa lampau secara tekstual. Ini adalah upaya menemukan cetak biru keteladanan yang paling utuh tentang ketauhidan, pembentukan akhlak mulia, keikhlasan berjuang, dan fondasi syariat Islam.

Mulai dari keabsahan nasab keturunan yang suci, tanda-tanda kenabian sejak belia, hingga mukjizat-mukjizat yang menggetarkan, semuanya memiliki makna.

Ditambah lagi dengan perjuangan hijrah yang penuh air mata dan pengorbanan, hingga penjabaran sifat-sifat fisik (zahir) beliau yang penuh pesona. Semuanya menyimpan lautan hikmah yang tak pernah kering.

Artikel ini akan mengupas secara sangat mendalam perjalanan agung Sang Penutup Para Nabi.

Sejarah Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW (Sirah Nabawiyah)

Perjalanan kehidupan sang manusia pilihan ini terbagi ke dalam berbagai fase krusial yang saling berkesinambungan.

Setiap fasenya ditempa langsung oleh pengawasan Ilahi. Mulai dari masa sebelum kenabian di Makkah yang penuh kejahiliahan, ujian dakwah yang sangat berat, hingga puncaknya membangun peradaban Islam yang kokoh, adil, dan tak tertandingi di kota Madinah.

Nasab, Kelahiran, dan Masa Kecil yang Penuh Keajaiban

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota suci Makkah pada bulan Rabi'ul Awal, bertepatan dengan hari Senin di Tahun Gajah.

Tahun ini merujuk pada peristiwa monumental ketika Allah menggagalkan penyerangan pasukan gajah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Kakbah.

Nasab beliau sangat mulia, murni, terjaga dari segala noda jahiliah, dan disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama ahli nasab. Silsilah beliau adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf. Untaian nasab emas ini terus bersambung secara valid hingga ke Adnan.

Adapun menyambungkan nasab lebih ke atas lagi hingga Nabi Adam 'alaihissalam dipandang makruh oleh Imam Malik dan para ulama lainnya. Hal ini semata-mata karena ketiadaan bukti sejarah (sanad) yang benar-benar kuat dan valid.

Menjelang kelahirannya, keajaiban demi keajaiban mulai tampak silih berganti.

Sang ibu, Aminah binti Wahab, menyaksikan cahaya terang yang memancar dari dirinya hingga mampu menyinari istana-istana megah di wilayah Bushra, Syam.

Saat bayi suci itu lahir ke dunia, pandangannya langsung menatap tajam ke arah langit. Ini mengisyaratkan hubungan vertikal yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.

Beliau lahir dalam keadaan yatim. Sang ayah tercinta, Abdullah, wafat saat usia kandungan Aminah baru menginjak dua bulan lebih sepertiga (meski ada pula sebagian kecil pendapat ulama yang menyebutkan ibunya masih mengandung di usia kandungan lain).

Di masa persusuan yang merujuk pada tradisi bangsawan Arab, beliau disusui pertama kali oleh Tsuwaibah, budak perempuan pamannya, Abu Lahab.

Setelah itu, beliau diserahkan kepada ibu susuan dari pedalaman, Halimah As-Sa'diyah. Beliau tinggal di lingkungan pedesaan Bani Sa'ad yang asri, berudara bersih, dan terbebas dari hiruk-pikuk Makkah, selama empat tahun penuh.

Di perkampungan pegunungan inilah terjadi mukjizat besar berupa pembelahan dada oleh Malaikat Jibril untuk menyucikan hatinya dari segala sifat buruk.

Kejadian gaib yang luar biasa ini membuat Halimah sangat khawatir akan keselamatan sang anak. Sehingga dengan berat hati, ia memutuskan untuk mengembalikannya kepada ibunda Aminah.

Namun, awan duka perpisahan kembali datang menyelimuti kehidupan beliau tatkala ibunya wafat di kawasan Abwa'.

Peristiwa memilukan ini terjadi di tengah perjalanan pulang sehabis mengunjungi paman-pamannya dari pihak ibu (Bani Najjar) di Madinah. Saat itu, beliau baru berusia sekitar enam tahun.

Pengasuhan anak yatim piatu ini pun beralih ke tangan pelayan setianya, Ummu Ayman, yang membawanya kembali ke Makkah untuk diserahkan kepada sang kakek, Abdul Muthalib.

Kakeknya sangat memuliakan dan menyayanginya melebihi anak-anak kandungnya sendiri hingga beliau genap berusia delapan tahun.

Setelah sang kakek wafat, amanat besar pengasuhan diwasiatkan kepada pamannya yang bijaksana, Abu Thalib.

Sang paman mengasuh, menanggung biaya hidup, melindunginya dari bahaya, dan mendidik keponakannya tersebut dengan penuh kebanggaan serta kasih sayang yang luar biasa.

Sejak masa inilah, Allah SWT campur tangan langsung menjaga kesuciannya dengan menugaskan Malaikat Israfil 'alaihissalam untuk secara khusus mendampingi beliau selama tiga tahun berturut-turut. Setelah masa itu berlalu, penjagaan estafet diteruskan oleh Malaikat Jibril 'alaihissalam dengan cara menemaninya, menjaganya dari perilaku jahiliah, dan mengawasinya—meskipun saat itu Jibril belum menampakkan wujud aslinya dan belum pernah berbicara kepada beliau.

Pernikahan Mengagumkan dan Anugerah Gelar Al-Amin

Memasuki usia belasan tahun, pengalaman hidup dan kemandirian beliau semakin terasah saat diajak sang paman bersafar untuk berniaga menembus kerasnya gurun menuju negeri Syam.

Di sebuah daerah pemberhentian bernama Bushra, seorang pendeta Nasrani yang sangat alim bernama Buhaira melihat rombongan tersebut.

Sang pendeta langsung mengenali tanda-tanda kenabian pada diri sang pemuda—mulai dari awan yang menaunginya hingga cap kenabian di punggungnya—berdasarkan deskripsi valid di dalam kitab-kitab suci terdahulu.

Sang pendeta segera memperingatkan Abu Thalib dengan tegas: "Pulanglah bersamanya agar orang-orang Yahudi tidak membunuhnya apabila mereka mengenalinya." Khawatir akan keselamatan sang keponakan, Abu Thalib pun segera mengamankan dan memulangkannya ke Makkah.

Saat beranjak dewasa, reputasi kejujurannya membuat beliau dipercaya untuk memimpin dan membawa barang dagangan bernilai besar milik seorang saudagar wanita kaya, cerdas, dan terhormat di Makkah, yakni Khadijah binti Khuwailid.

Keberkahan yang berlimpah, keuntungan yang berlipat ganda, dan keajaiban selalu menyertai perniagaan tersebut di setiap langkahnya. Hal ini diamati dengan saksama oleh Maisarah, pelayan kepercayaan Khadijah yang ditugaskan menyertai kafilah dagang itu.

Sesampainya di Makkah, Maisarah menceritakan semua keajaiban, kedermawanan, dan kemuliaan akhlak pemuda itu kepada majikannya. Kagum atas keagungan karakternya yang langka, Khadijah pun mengambil inisiatif untuk meminang beliau.

Pernikahan agung dan penuh berkah itu terjadi saat Nabi Muhammad SAW berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.

Kapasitas kepemimpinan, kematangan emosi, dan kebijaksanaan beliau diuji dengan dahsyat serta diakui oleh seluruh kabilah tatkala beliau genap berusia 35 tahun.

Kaum Quraisy saat itu sedang merenovasi Kakbah akibat banjir. Situasi memanas dan nyaris berujung pada pertumpahan darah antar-suku karena kabilah-kabilah berselisih hebat tentang siapa yang paling mulia dan berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya.

Kebuntuan pecah ketika mereka sepakat menjadikan orang pertama yang masuk ke area Kakbah (pintu Bani Syaibah) keesokan harinya sebagai hakim agung. Sosok yang ditakdirkan Allah itu ternyata adalah beliau.

Dengan kecerdasannya yang melampaui zaman, beliau melepaskan surbannya, membentangkan kain tersebut, lalu meletakkan batu hitam itu di tengahnya.

Beliau menyuruh setiap kepala kabilah yang bertikai untuk memegang setiap ujung kain dan mengangkat batu itu bersama-sama ke dekat posisinya.

Setelah sejajar, barulah beliau sendiri yang mengambil dan meletakkannya dengan kedua tangannya yang mulia. Atas solusi damai yang sangat memuaskan semua pihak ini, beliau semakin dihormati tanpa syarat dan dianugerahi gelar Al-Amin (Orang yang Paling Dapat Dipercaya).

Masa Bertafakur, Fenomena Alam, dan Turunnya Wahyu Pertama

Menjelang masa diutusnya beliau sebagai Nabi, dimensi spiritual beliau bergejolak dan semakin tajam.

Sejak peristiwa peletakan Hajar Aswad, beliau sering mendengar suara-suara gaib yang menyapanya namun tidak melihat sosoknya. Beliau juga mulai melihat kilatan-kilatan cahaya suci bagaikan fajar menyingsing (Ar-Ru'ya Ash-Shalihah).

Menjelang hari-hari turunnya wahyu, beliau menjadi sangat menyukai kesendirian, menjauhi hingar-bingar penyembahan berhala dan kerusakan moral di Makkah.

Alam semesta pun seolah merespons kesucian batinnya. Tidaklah beliau melewati pepohonan, lembah, atau batu karang melainkan benda-benda mati itu merespons dan mengucapkan salam dengan bahasa yang sangat fasih: "Keselamatan atasmu wahai Utusan Allah."

Beliau sering menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang untuk mencari asal suara itu, namun tak melihat siapa pun di sekitarnya.

Beliau kemudian memilih untuk secara rutin mengasingkan diri (berkhalwat) di Gua Hira', sebuah celah sempit di atas Jabal Nur.

Sangat keliru jika ada yang menyangka bahwa khalwat beliau saat itu sekadar untuk bertapa merenungkan masalah sosial duniawi semata. Kesendirian beliau adalah sebentuk tafakur qalbu (pemusatan kekuatan hati dan pikiran) yang mendalam, murni mencari kebenaran mutlak dari Sang Pencipta Alam Semesta.

Empat Jenis Tujuan Menyendiri (Khalwat) Menurut Ahli Hakikat

Untuk memahami betapa tingginya dan murninya kedudukan khalwat Nabi, para ulama ahli tasawuf merumuskan empat jenis tujuan seseorang menyendiri dari keramaian:

  1. Mencari tambahan ilmu langsung dari Sang Pencipta (Al-Haq/Allah). Pencarian ini tidak dilakukan melalui jalur perdebatan logika akal atau pikiran filsafat, melainkan murni melalui zikir dengan jiwa dan ruh yang tersambung sepenuhnya. Seseorang benar-benar mengingat Tuhannya dengan sepenuh eksistensi batinnya, bukan semata komat-kamit dengan lisan. Inilah derajat khalwat tertinggi, tujuan para ahli hakikat, dan jenis kesendirian paripurna yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika pikiran logika perihal duniawi masih merasuki seseorang saat berkhalwat, berarti ia belumlah mencapai derajat ahli khalwat sejati.
  2. Menjernihkan pikiran budi akal (intelektual). Ini biasanya diperuntukkan bagi kaum pencari ilmu duniawi atau ahli logika yang ingin menemukan penyelesaian dari sebuah masalah yang rumit. Walau bermanfaat secara ilmu pengetahuan, ini dianggap sebagai tingkatan terendah dari hawa nafsu bagi para pencari kebenaran sejati karena masih dikuasai oleh dikte akal pikiran semata.
  3. Menolak rasa asing dan kesepian batin yang timbul akibat ketidakcocokan pergaulan sosial di masyarakat, serta demi menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat.
  4. Mencari tambahan status (kedudukan/kemuliaan semu) yang bisa didapatkan dari pandangan manusia lain karena merasa kagum akan kesendirian atau "ketapaan" orang tersebut.

Khalwat Rasulullah SAW di Gua Hira jelas murni berada di jenis pertama. Beliau memutus total hubungan dari hiruk-pikuk pergaulan, godaan harta, bahkan keluarga tercinta demi tenggelam dalam uns (rasa kedekatan mesra dengan Allah) dan jalwah (penyingkapan tirai spiritual).

Beliau senantiasa mengingat Dzat Pencipta. Berkat kesuciannya, cermin wahyu di hatinya semakin jernih berkilauan mencapai derajat kesempurnaan tertinggi.

Puncak dari penyingkapan itu terjadi saat beliau berusia 40 tahun penuh. Saat sedang berdiri di keheningan di atas Gunung Hira', sesosok makhluk gaib menampakkan diri dan berseru: "Bergembiralah wahai Muhammad, aku adalah Jibril dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini."

Jibril lalu mengeluarkan sepotong kain sutra indah yang bertatahkan permata, meletakkannya di tangan beliau, dan memerintahkan dengan suara menggelegar: "Bacalah!".

Beliau menjawab dalam kepolosan seorang yang ummi: "Aku tidak bisa membaca."

Jibril memeluk dan mendekap dada beliau dengan sangat kuat hingga beliau merasa kepayahan dan hampir kehabisan napas, lalu melepaskannya dan mengulanginya sampai tiga kali. Setelah raga beliau siap, Jibril menuntunkan firman Allah, surah Al-Alaq ayat 1-5, yang menjadi pilar pertama Islam.

Peristiwa itu berlanjut dengan visual yang menakjubkan. Jibril meminta beliau turun dari atas gunung menuju bumi yang datar.

Di sana, Jibril mendudukkan beliau di atas hamparan permadani putih yang sangat anggun dan bercahaya, sementara Jibril mengenakan dua helai pakaian kebesaran berwarna hijau menyala.

Jibril kemudian menghentakkan kakinya ke bumi, maka serta-merta memancarlah sebuah mata air yang jernih. Jibril mencontohkan cara bersuci (berwudu), memercikkan air ke wajah Rasulullah untuk menyegarkannya, dan mengajarkan tata cara salat dua rakaat, sebelum akhirnya lenyap secara gaib dari pandangan mata.

Dengan tubuh menggigil hebat, berkeringat, dan rasa takut yang menyelimuti seluruh persendiannya, beliau pulang ke pelukan Khadijah radhiyallahu 'anha seraya meminta diselimuti dan berkata: "Aku sungguh khawatir terhadap diriku sendiri, apa yang terjadi padaku?"

Khadijah dengan kebijaksanaannya menenangkan, meneguhkan hatinya (meyakinkan bahwa Allah tak akan menghinakannya karena beliau selalu menyambung silaturahmi dan menolong orang lemah), dan menjadi manusia pertama di muka bumi yang beriman.

Khadijah kemudian membawa beliau kepada paman sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang buta namun menguasai Taurat dan Injil. Waraqah mendengarkan saksama, lalu langsung membenarkan peristiwa itu dan menjadi laki-laki pertama yang beriman (secara lisan).

Ia menegaskan bahwa sosok agung itu adalah Namus (Malaikat penyampai wahyu rahasia) yang juga turun kepada Musa. Waraqah memperingatkan dengan nada haru: "Duhai sekiranya aku masih hidup saat engkau diutus, duhai sekiranya aku masih kuat ketika kaummu mengusirmu kelak..."

Beliau terkejut dan bertanya: "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab mantap: "Tidak ada seorang pun di sejarah ini yang datang membawa ajaran seperti apa yang engkau bawa, melainkan pasti akan dimusuhi dan diperangi."

Tak lama berselang setelah peristiwa ini, cahaya hidayah menyentuh hati para sahabat terdekat seperti Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma.

Masa Dakwah, Ujian Berlapis, dan Mukjizat Isra Mikraj

Selama 13 tahun fase dakwah yang panjang di Makkah, Rasulullah SAW dan sekumpulan kecil para sahabat mengalami serangkaian ujian yang luar biasa berat.

Pada awalnya, mereka menjadikan rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang tersembunyi sebagai pusat pembinaan dan madrasah Islam secara rahasia selama tiga tahun berturut-turut. Di sana mereka dididik tauhid sembari mendirikan salat beribadah menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem).

Setelah perintah dakwah secara terang-terangan turun dari langit, penolakan dan perlawanan frontal kaum Quraisy meledak.

Allah SWT menantang para sastrawan Quraisy untuk membuat satu surah saja yang mampu menandingi Al-Qur'an, namun tak satu pun penyair paling ulung mereka sanggup melakukannya.

Karena gengsi dan keangkuhan, mereka mencari-cari alasan dengan berkata: "Ini adalah sihir kata-kata yang memisahkan anak dari bapaknya," atau "Di telingaku ada sumbatan sehingga tak mau mendengarnya."

Tokoh-tokoh kafir intelektual seperti Abu Jahal, Al-Walid bin Al-Mughirah, An-Nadhar, Uqbah bin Abi Mu'aith, dan Al-Akhnas sejatinya sangat menyadari dan mengakui di lubuk hati mereka yang paling dalam bahwa susunan Al-Qur'an bukanlah karangan lisan manusia. Namun kesombongan, kesengsaraan, dan ketakutan kehilangan kekuasaan telah membutakan mata hati mereka.

Sekelompok pencemooh yang terus-menerus mengolok-olok Nabi, menaruh duri di jalannya, hingga melempari kotoran, pada akhirnya dibinasakan oleh Allah, dan Allah secara langsung turun tangan melindungi Utusan-Nya dari konspirasi pembunuhan.

Berbagai diplomasi dan cara licik dilakukan petinggi Quraisy. Mereka mendatangi Abu Thalib secara bergelombang, mengeluhkan Nabi Muhammad yang dianggap merusak tatanan sosial, mencela berhala leluhur mereka, dan merendahkan agama tradisi nenek moyang.

Puncaknya, dalam keputusasaan diplomasi, mereka memberikan penawaran tak masuk akal: "Serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh, dan ambillah sebagai gantinya Umarah bin Al-Walid (pemuda Quraisy yang paling tampan dan kuat), jadikanlah ia sebagai anakmu sendiri."

Abu Thalib murka dan menjawab dengan logika telak: "Aku serahkan anakku kepada kalian untuk dibunuh, sementara aku harus repot mengasuh dan memberi makan anak kalian?! Sungguh ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi."

Gagal total dalam bernegosiasi, intimidasi fisik merajalela secara buas. Mereka mencegat jemaah haji kabilah lain di persimpangan-persimpangan jalan pada musim haji untuk memprovokasi agar menjauhi Nabi dengan menyebar hoaks: "Dia adalah seorang penyihir dan pendusta."

Namun, strategi ini menjadi bumerang telak; karena keingintahuan manusia, nama dan urusan beliau justru makin meroket, viral, dan dikenal luas ke seluruh penjuru Jazirah Arab.

Ketika para pemuka kaum kafir menuntut bukti mukjizat nyata dengan keangkuhan, Nabi memperlihatkan kebesaran Allah melalui mukjizat terbelahnya bulan di atas kota Makkah.

Sayangnya, mukjizat sebesar itu hanya menambah kemantapan iman kaum muslimin, sementara orang musyrik semakin tenggelam dalam kedurhakaan dan menuduhnya sebagai "sihir yang berkesinambungan".

Siksaan fisik yang makin tak beradab (seperti yang dialami keluarga Yasir dan Bilal) memaksa sekelompok sahabat menyeberang lautan untuk hijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin Raja Najasyi yang adil, dan mereka bermukim di sana selama sekitar lima tahun.

Sempat muncul kabar bohong bahwa seluruh Quraisy telah sujud memeluk Islam sehingga para muhajirin antusias pulang. Namun menyadari kabar itu palsu dan siksaan justru menghebat, mereka terpaksa kembali bermigrasi ke Habasyah.

Kekejaman absolut Quraisy mencapai titik tertingginya pada peristiwa pemboikotan total terhadap seluruh klan Bani Hasyim dan Bani Muthalib (baik yang muslim maupun yang kafir namun membela Nabi). Mereka digiring masuk ke sebuah Syi'ib (lembah celah gunung berbatu). Sebuah piagam perjanjian tertulis digantung dengan angkuh di dalam Kakbah, bersumpah untuk memutus total hubungan: tidak boleh menikahi mereka dan dilarang keras berjual beli atau menyuplai makanan.

Pemboikotan ini berlangsung mencekik selama tiga tahun, hingga kelaparan ekstrem melanda. Umat Islam terpaksa memakan dedaunan kering hingga terdengar jerit tangis kelaparan anak-anak yang memilukan hati siapa saja yang mendengarnya dari balik bukit.

Atas kuasa dan kehendak Allah SWT, rayap diutus menggerogoti lembaran piagam kezaliman tersebut. Secara ajaib, rayap memakan habis pasal-pasal penindasan, membiarkan dan menyisakan hanya tulisan "Dengan asma Allah" saja.

Tangan sang penulis piagam tersebut (Manshur bin Ikrimah) pun dilumpuhkan oleh Tuhan. Mengetahui keajaiban ini, beberapa tokoh kafir dari kabilah lain yang masih memiliki sisa nurani kemanusiaan memberontak, memanggul senjata, merobek sisa piagam tersebut, dan secara paksa mengakhiri masa boikot yang biadab itu.

Cobaan fisik berlalu, namun ujian batin menerpa di Tahun Kesedihan (Amul Huzni). Pendukung utama dakwah beliau, sang paman pelindung (Abu Thalib) dan sang pelipur lara tercinta, Khadijah radhiyallahu 'anha, wafat dalam waktu yang berdekatan. Hati beliau sangat hancur dan bersedih.

Sebagai penghiburan spiritual tertinggi (tasliyah), sekitar satu setengah tahun kemudian Allah SWT memuliakannya dengan mukjizat Isra Mikraj yang tak tertandingi oleh nabi mana pun.

Beliau diperjalankan di malam buta menaiki hewan gaib Buraq dari Makkah ke Baitul Maqdis (Al-Quds). Setelah memimpin salat seluruh roh para nabi, beliau dinaikkan menembus tujuh lapis langit bersama Jibril. Di setiap pintu langit, para Nabi menyambutnya dengan ucapan selamat, penghormatan, dan sukacita yang mendalam.

Beliau terus diangkat hingga menembus Sidratul Muntaha, melampaui batas tempat terdengarnya deritan pena-pena takdir semesta. Di sanalah—tanpa perantara Jibril—perintah wajib salat 50 waktu dalam sehari semalam difardukan atas beliau dan umatnya.

Menyadari kelemahan umat akhir zaman, atas saran berharga Nabi Musa 'alaihissalam di langit keenam, beliau bolak-balik memohon keringanan kepada Allah hingga kewajiban itu dijadikan hanya lima waktu dengan pahala yang tetap sebanding dengan lima puluh waktu.

Keesokan paginya, ketika peristiwa tak masuk akal ini disampaikan di pelataran Kakbah, Abu Bakar langsung membenarkannya tanpa ragu sedikit pun (sehingga Allah menyematkan gelar Ash-Shiddiq padanya selamanya).

Sebaliknya, orang-orang kafir bertepuk tangan kegirangan merasa mendapat amunisi untuk mendustakannya. Mereka menantang dan menguji Nabi agar menyebutkan ciri-ciri mendetail Baitul Maqdis—padahal beliau tak pernah sekali pun pergi ke sana sebelum malam itu.

Allah segera merespons; Jibril lalu menampakkan dan mengangkat visualisasi wujud Baitul Maqdis tepat di hadapan mata beliau sehingga beliau mampu mendeskripsikannya dengan sangat akurat hingga jumlah tiang dan jendelanya. Kafir Quraisy terbungkam dan tak sanggup mendustakannya secara faktual, tapi keangkuhan hati membuat mereka tetap menolak beriman dan menuduhnya sebagai ilusi.

Titik Balik Hijrah ke Madinah dan Kejayaan Islam

Merasakan penolakan yang semakin mengkristal dan ancaman di Makkah, Nabi mencoba strategi baru.

Beliau mendatangi perkemahan kabilah-kabilah dari luar kota saat musim haji, meminta perlindungan fisik agar beliau dapat menyampaikan risalah Tuhannya dengan aman. Namun, setiap kabilah besar yang ditemui berpaling, menolak dengan kasar, dan bahkan mengejek beliau.

Kesabaran itu berbuah manis saat Allah SWT mendatangkan pertolongan dari arah tak terduga, yakni sekumpulan peziarah kaum Khazraj (Anshar) dari Yatsrib (Madinah).

Tersentuh oleh wahyu Al-Qur'an dan teringat akan nubuat kaum Yahudi di kota mereka tentang nabi akhir zaman, secara bertahap mereka memeluk Islam, berbaiat di Aqabah, dan menjadikan Islam sebagai agama mayoritas yang tersebar luas ke seluruh kabilah di Madinah. Yatsrib pun bertransformasi menjadi tanah harapan dan pangkalan militer pertama Islam.

Ketika rencana pembunuhan Nabi di Makkah telah matang, perintah hijrah total diturunkan.

Kaum muslimin berangkat bergelombang secara sembunyi-sembunyi agar tak ditangkap Quraisy. Abu Bakar yang sangat antusias dan hendak berhijrah lebih awal, ditahan oleh Nabi agar bersabar menemaninya sehingga mereka bisa berhijrah bersama-sama.

Pada malam yang ditentukan, lolos dari kepungan pemuda bersenjata, keduanya keluar menyelinap menuju Gua Tsur di selatan Makkah. Mereka bersembunyi selama tiga malam dengan sistem dukungan logistik yang cerdas.

Mereka dilayani oleh Amir bin Fuhairah dan dipandu oleh seorang penunjuk jalan profesional yang musyrik namun jujur, Abdullah bin Uraiqith. Mereka mengambil rute melambung menyusuri pesisir pantai Laut Merah demi mengecoh kejaran musuh. Allah SWT benar-benar membutakan mata dan akal musuh yang memburu hingga ke mulut gua.

Dalam rute perjalanan yang menegangkan itu, seorang ksatria pemburu bayaran bernama Suraqah bin Malik berhasil melacak jejak dan memacu kudanya mendekati rombongan kecil ini demi hadiah seratus ekor unta.

Namun, kekuatan intervensi Ilahi seketika campur tangan; atas doa Al-Musthafa SAW yang dipanjatkan, kaki kuda kebanggaan Suraqah mendadak terperosok berulang kali ke dalam tanah liat kering.

Menyadari ia berhadapan dengan kekuatan langit, dalam kondisi ketakutan Suraqah berseru memohon jaminan keamanan dari Muhammad SAW. Nabi yang pemaaf justru mendoakan kebaikan dan keselamatannya serta meramalkan Suraqah kelak akan memakai gelang kebesaran Raja Kisra.

Suraqah pun selamat, lalu sebagai bentuk rasa syukur ia berbalik arah mengelabui pasukan pencari Quraisy yang lain dengan berkata meyakinkan: "Kembalilah kalian, aku sudah memeriksa jalan pesisir ini dengan teliti, tak ada jejak mereka."

Di rute yang melelahkan itu, rombongan terpaksa singgah di kemah seorang wanita Badui bernama Ummu Ma'bad, berniat membeli daging atau susu. Ummu Ma'bad menjawab sedih: "Demi Allah, aku tidak memiliki makanan apa-apa."

Mata tajam Al-Musthafa SAW kemudian menatap seekor domba betina kurus di sudut kemah, dan bertanya. Ummu Ma'bad menjelaskan itu domba betina yang sangat kelelahan tertinggal dari kawanannya, dan sama sekali tak ada air susu padanya.

Setelah meminta izin, Nabi SAW dengan penuh kelembutan mengusap ambing susu domba tersebut seraya menyebut asma Allah dan memerahnya. Dengan izin Sang Khalik, air susu memancar deras memenuhi wadah terbesar hingga seluruh rombongan dan Ummu Ma'bad dapat minum sampai puas dan menyisakan banyak perbekalan.

Perjalanan diberkati itu berlanjut hingga tiba di daerah Quba (pinggiran Madinah) pada hari Senin di bulan Rabi'ul Awal. Beliau menetap dengan penuh suka cita selama empat hari dan mendirikan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun atas dasar takwa.

Pada hari Jumat pagi, beliau bertolak menuju pusat kota Madinah. Di tengah perjalanan, beliau melaksanakan ibadah salat Jumat pertama dalam sejarah Islam yang dihadiri jamaah besar.

Memasuki Madinah, suasana pecah oleh tangis haru kebahagiaan. Saling berebut tali kekang unta untuk menjamu sang tamu agung, Nabi membiarkan untanya (Al-Qashwa) berjalan sendiri atas ilham Ilahi hingga akhirnya menderum lemas di sebuah tanah lapang milik dua anak yatim (lokasi perluasan Masjid Nabawi saat ini).

Sembari menunggu proses jual-beli tanah, pembangunan masjid, dan kamar istri-istrinya selesai dibangun (dari bulan Rabi'ul Awal hingga Safar), beliau dengan rendah hati menumpang di kediaman mulia milik Abu Ayyub Al-Anshari. Rumah para Muhajirin juga mulai dibangun berdampingan di sekitarnya.

Kota Madinah yang awalnya dikenal sebagai wilayah rawa bersuhu buruk yang sarat akan wabah demam malaria mematikan, disucikan secara ajaib oleh Allah atas doa Nabi dengan memindahkan wabah penyakit tersebut ke wilayah Juhfah. Madinah pun menjadi kota suci (Haram) yang diberkahi udaranya.

Beliau bermukim penuh selama sebulan, kemudian turunlah syariat penyempurnaan rakaat salat bagi musafir yang memutuskan bermukim, dari yang awalnya dua rakaat disempurnakan menjadi empat rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya).

Tabel Detail Peristiwa Penting Pasca Hijrah (Tahun 1-11 H)

Di kota Madinah inilah kedaulatan negara Islam berdiri. Syariat perundang-undangan Islam, hukum tata negara, ekonomi, sosial, peradilan, dan pertahanan militer dirumuskan secara utuh melengkapi akidah tauhid.

Berikut adalah ringkasan perkembangannya tahun demi tahun:

Tahun HijriahRincian Peristiwa Sejarah dan Pensyariatan Penting
Tahun ke-1Dimulainya proses masif gotong royong pembangunan Masjid Nabawi (Rabi'ul Awal - Safar). Turunnya syariat panggilan agung salat berupa Azan melalui mimpi sahabat yang dibenarkan Nabi.
Tahun ke-2Tahun peletakan hukum ibadah fisik & harta: Diwajibkannya puasa bulan Ramadan, pelaksanaan zakat fitrah & zakat harta. Terjadi peralihan arah kiblat dari Yerusalem kembali ke Kakbah Makkah. Puncak kebanggaan tahun ini adalah kemenangan besar umat Islam secara militer pada Perang Badar Al-Kubra.
Tahun ke-3Meletusnya Perang Uhud, peperangan berat yang menelan syuhada besar (termasuk Hamzah), yang memberikan hikmah teramat mendalam bagi kaum muslimin tentang bahaya godaan dunia (harta rampasan) dan pentingnya kepatuhan mutlak pada instruksi pimpinan.
Tahun ke-4Terjadinya pengusiran kabilah Yahudi Bani Nadhir dari Madinah akibat pengkhianatan dan percobaan pembunuhan terhadap Nabi. Syariat kemudahan (Rukhshah) berupa qasar salat bagi musafir diturunkan, pengharaman khamar (minuman keras) secara total, pensyariatan tayamum menggunakan debu suci pengganti air wudu, dan perumusan teknis tata cara salat khauf dalam kondisi peperangan.
Tahun ke-5Terjadinya pertahanan parit epik pada Perang Khandaq (Ahzab) melawan koalisi sepuluh ribu pasukan musyrik. Dilanjutkan dengan penundukan kabilah Yahudi Bani Quraizhah yang berkhianat di saat kritis, dan kemenangan atas kabilah Al-Mushthaliq.
Tahun ke-6Pelaksanaan Umrah Hudaibiyah yang terhalang masuk Makkah. Nabi mengambil Bai'at Ridhwan dari sahabat di bawah pohon pelataran, yang kemudian berujung pada perjanjian damai bersejarah Perjanjian Hudaibiyah, serta awal disyariatkannya pelaksanaan ibadah haji ke Baitullah.
Tahun ke-7Peperangan besar beruntun di benteng-benteng Khaibar yang akhirnya melumpuhkan sisa kekuatan kapital Yahudi di Jazirah Arab. Disusul dengan pelaksanaan pelunasan Umrah Qadha' (Umrah pengganti) yang disaksikan langsung oleh penduduk Makkah yang menyingkir ke bukit-bukit.
Tahun ke-8Terjadi ekspedisi pertempuran Perang Mu'tah melawan pasukan imperium Romawi Bizantium. Puncak kejayaan terbesar Islam tahun ini adalah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan kota suci Makkah dan penghancuran 360 berhala) secara damai, yang dilanjutkan dengan pemadaman pemberontakan di Perang Hunain.
Tahun ke-9Keberangkatan militer terberat dalam Perang Tabuk melawan rumor serangan Romawi (ini menjadi perang terakhir yang dipimpin Nabi). Pelaksanaan ibadah haji pertama kaum muslimin yang dipimpin oleh Gubernur Haji Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tahun ini dijuluki Amul Wufud (Tahun Utusan) karena seluruh delegasi kabilah Arab berbondong-bondong datang ke Madinah menyatakan memeluk Islam.
Tahun ke-10Nabi Muhammad SAW melaksanakan Haji Wada' (Haji Perpisahan). Ini adalah ibadah haji pertama dan terakhir beliau yang diikuti lebih dari seratus ribu umat Islam, tempat di mana turunnya ayat terakhir penyempurnaan agama Islam secara utuh (Al-Maidah: 3).
Tahun ke-11Nabi Muhammad SAW jatuh sakit demam parah (setelah memilih bertemunya dengan Ar-Rafiq Al-A'la) dan wafat menghadap Sang Khalik Yang Maha Tinggi, meninggalkan pusaka abadi (Al-Qur'an dan Sunnah) bagi kelangsungan umatnya.

Mengenal Sifat Fisik (Zahir) Nabi Muhammad SAW yang Sempurna

Di samping keagungan budi pekerti yang menjadi Rahmatan Lil'alamin (rahmat bagi semesta alam), Allah SWT Yang Maha Pencipta rupa juga mendesain fisik zahir Nabi Muhammad SAW dengan tingkat proporsi, keindahan maskulin, dan kehebatan daya tahan yang tiada duanya.

Membaca ciri-ciri fisik beliau secara rinci bukanlah bentuk kultus individu, melainkan anak tangga syariat untuk menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) yang murni dan rindu yang membara di dalam hati setiap orang mukmin.

Postur Tubuh, Bentuk Wajah, dan Keindahan Rupa

Anatomi tubuh Rasulullah SAW diciptakan berada pada titik keseimbangan yang paling sempurna (Tawazun).

Beliau memiliki postur tubuh berukuran sedang berwibawa, tidak terlihat bantet atau terlalu pendek, dan tidak pula terlampau jangkung menjulang tinggi melampaui orang sekitarnya. Namun anehnya, atas karisma kenabian, jika beliau berjalan di kerumunan orang banyak, postur beliau cenderung terlihat sedikit lebih tinggi, menonjol, dan amat berwibawa.

Bagian dadanya bidang membentang luas penuh kegagahan. Permukaannya rata tak menonjol sebersih dan seterang bulan purnama, dan jarak membentang di antara kedua pundaknya cukup berjauhan, mencerminkan kekuatan paru-paru dan kemantapan tulang punggung.

Kualitas otot dan penumpukan dagingnya sangat padat atletis. Keajaiban fisiknya luar biasa karena meskipun usia beliau bertambah senja menembus angka 60-an tahun, struktur perut dan tubuh beliau tetap kencang, padat merata, dan proporsional seolah tidak terpengaruh oleh hukum pelapukan usia. Beliau mempertahankan wujud keindahan fisiknya sediakala tanpa lemak berlebih.

Pada bagian permukaan dada depan, kulitnya mulus tak dipenuhi bulu lebat layaknya laki-laki pada umumnya. Hanya ada sebuah garis bulu halus yang tersusun sangat indah memanjang menyambung, merambat mulai dari pangkal lubang leher menurun tajam melintasi dada hingga bermuara ke pusar, seolah menyerupai dahan ranting pohon yang lurus dan lembut.

Beliau memiliki lipatan perut yang hanya terdiri dari tiga garis lipatan atletis; dua garis lipatan tampak di bagian atas ketika beliau membuka pakaian, dan satu lipatan paling bawah tertutup rapi dengan penuh kehormatan oleh kain sarungnya.

Leher beliau disebut-sebut oleh para sahabat pencinta sebagai bagian tubuh yang sangat menawan artistik. Ukurannya sangat proporsional, tidak terkesan jenjang menyerupai leher unta dan tidak pula memendek. Bagian belakangnya tampak kekar namun gemulai menahan hembusan angin keras dan sengatan terik matahari padang pasir, dengan pancaran kilau seolah-olah sebuah kendi dari perak murni yang memantulkan cahaya sepuhan keping emas.

Warna kulit beliau tidak pucat namun tidak juga gelap, melainkan sangat menawan, yakni cerah bersinar kemilau dengan dominasi rona putih bersih yang dipadukan semburat kemerah-merahan (karena aliran darah yang sehat).

Bentuk kepalanya agak besar proporsional yang mengisyaratkan kesempurnaan volume otak dan akal, dihiasi kening dan dahi yang terbuka luas, lebar, mencerminkan kecerdasan dan kelapangan dada.

Sepasang alisnya berbulu lebat, melengkung tipis memanjang ibarat busur panah ketat. Bagian tengah di antara kedua pangkal alis tersebut terpisah rapi (tidak menyambung seperti satu garis tebal), dan jika diperhatikan saat beliau sedang marah atau serius di medan perang, seolah-olah ada kilauan urat perak murni memancar di sela-sela keduanya.

Matanya sangat besar menawan dan melebar dengan kornea hitam pekat bagaikan malam. Ini dikontraskan dengan warna putih bersih dari sklera mata yang dihiasi sedikit jaring-jaring urat kemerahan halus yang semakin menambah tajam dan syahdu sorot pandangannya.

Barisan gigi-geligi depan beliau agak renggang tertata sangat rapi dan putih bak mutiara. Apabila beliau berbicara atau tersenyum tulus penuh kegembiraan, keindahannya bersinar memancar menerangi wajahnya bagaikan singkapan cahaya butiran awan putih.

Mahkota kepalanya ditumbuhi rambut hitam berkilau yang jatuhnya ikal bergelombang indah. Panjangnya terkadang sebahu atau mencapai cuping telinga, tidak lurus jatuh kaku memanjang dan sama sekali tidak keriting kaku menggumpal.

Kharisma, Aroma Tubuh, dan Tanda Kenabian (Khatamun Nubuwwah)

Salah satu bukti forensik dan autentik kenabian secara fisik—yang terus dicari dan diperiksa oleh para pendeta masa lalu (termasuk pencarian Salman Al-Farisi di Madinah)—terletak tersembunyi di bagian punggungnya.

Tepat di antara kedua pundaknya yang gagah berotot, dengan letak agak berdekatan condong ke arah area pundak sebelah kanan, bertengger kokoh dan menonjol sebuah Tanda Kenabian (Khatamun Nubuwwah).

Tanda sakral ini berbentuk semacam daging tumbuh menonjol kira-kira sebesar telur burung merpati atau kancing kemah, berwarna hitam gelap atau kemerah-kuningan. Di sekelilingnya dikitari oleh sekumpulan bulu-bulu lebat yang seakan-akan merumbai menyerupai surai anak kuda.

Kedua pundaknya yang bidang itu ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebat, ditopang dengan persendian tulang punggung dan pangkal leher yang ukurannya membesar mencerminkan tenaga pekerja berat. Bagian lengan bawah dan tulang hastanya panjang serta diselimuti otot yang sangat kuat.

Di bagian bawah tubuh (dari area paha menurun ke betis), rambut pertumbuhannya juga cukup lebat menandakan maskulinitas sempurna.

Meski memiliki cengkraman tenaga dan genggaman tangan layaknya seorang petarung pedang terkuat Arab, telapak tangan beliau membentang lebar dengan jemari yang memanjang lentik bagaikan ukiran batangan-batangan perak murni.

Hal yang paling menakjubkan dan paradoks bagi para sahabat yang pernah menjabat tangannya adalah, telapak tangan perkasa tersebut justru terasa sangat halus saat disentuh. Bahkan diibaratkan jauh lebih dingin dan lembut jika dibandingkan dengan kelembutan sutra kelas satu mana pun di dunia.

Aroma keringat dan tubuh beliau adalah keajaiban medis tersendiri yang tak dimiliki manusia lain. Telapak tangannya secara natural menguarkan semerbak wewangian layaknya tangan seorang peracik spesialis minyak wangi parfum.

Jika beliau sedang berjalan dan dengan penuh kasih sayang mengusap kepala atau meletakkan telapak tangannya di dahi dan pipi seorang anak kecil, maka keesokan harinya hingga berhari-hari setelahnya, sang anak akan dengan sangat mudah dikenali keberadaannya di tengah kerumunan kawan-kawannya. Ini semata-mata karena jejak aroma parfum dari telapak tangan Rasulullah masih menempel kuat menguar di kulitnya.

Begitu pula dengan produksi keringat beliau saat bekerja fisik; butiran keringatnya menetes bak mutiara-mutiara cemerlang di atas kulit putihnya. Terkadang ibunda Anas bin Malik mengumpulkan keringat tersebut dalam botol kecil saat Nabi tertidur, karena jika keringat suci itu tersapu hembusan angin, aromanya menebar keharuman menyaingi keharuman minyak misk dan ambar terbaik.

Cara melangkah dan berjalan beliau juga menjadi pusat percontohan kewibawaan. Beliau melangkah berjalan kaki dengan ritme yang sangat bersemangat, bertenaga, melangkah tegap dengan posisi badan sedikit condong ke depan.

Hentakan tenaga langkahnya sedemikian mantap seolah-olah beliau sedang mencabut dengan paksa kakinya dari sebuah batu karang yang membelenggunya, dan ritme keseimbangan jalannya seakan-akan seseorang yang tengah menuruni sebuah lereng curam yang menurun landai (cepat namun tak mungkin terjatuh).

Namun, di balik kecepatan (yang sering membuat sahabat ngos-ngosan mengejarnya) dan tenaga prima tersebut, postur berjalannya tetap memancarkan ketenangan (sakinah) absolut, tanpa menyisakan unsur kesombongan gaya berjalan para raja tirani sedikit pun.

Etika tata krama fisik (adab zhahir) beliau juga luar biasa santun. Apabila ada seseorang (baik sahabat pembesar maupun hamba sahaya) yang memanggilnya dari belakang dan beliau hendak menoleh ke arah suara, beliau menolak hanya memutar sendi lehernya semata dengan pandangan ekor mata.

Beliau selalu memutar dan menghadapkan seluruh badan serta dadanya menghadap penuh (Iqbal) sebagai bentuk penghargaan dan respect maksimal kepada siapa saja lawan bicaranya.

Kesempurnaan paduan antara kehebatan fisik, wibawa kepemimpinan, dan kelembutan akhlak inilah yang membuat setiap perawi yang bertugas mendeskripsikan sifat beliau akan angkat tangan dan tak sanggup berucap selain melontarkan kesimpulan akhir:

"Demi Allah, aku bersumpah belum pernah melihat mata memandang orang yang seperti beliau keagungannya, baik sebelum masa kelahirannya maupun setelah beliau tiada."

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Sirah Nabawiyah)

Apa letak perbedaan mendasar antara tujuan khalwat (menyendiri) Nabi Muhammad SAW dengan tradisi orang pada umumnya?

Khalwat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di tempat terpencil Gua Hira bertujuan murni seratus persen untuk pencarian kebenaran ilahiah. Beliau menyambungkan frekuensi ruh dan jiwanya kepada Sang Pencipta (Allah SWT) melalui tafakur qalbu (zikir kalbu mendalam). Ini adalah level spiritualitas vertikal tertinggi yang membebaskan diri dari hawa nafsu logika dan egoisme individualistik. Berbeda jauh dengan khalwat para petapa duniawi yang umumnya hanya bertujuan mengasingkan diri demi mencari ketenangan mental dari stres hiruk-pikuk sosial, atau sekadar merenungkan solusi atas problematika filsafat duniawi menggunakan rasionalitas akal semata, yang pada akhirnya masih terjebak pada dikte nafsu sang manusia itu sendiri.

Bagaimana signifikansi peran dan keilmuan Waraqah bin Naufal dalam memvalidasi turunnya wahyu pertama?

Waraqah bin Naufal bukan sekadar paman tua Khadijah; ia adalah seorang sarjana, cendekiawan, dan pendeta Nasrani berpendirian lurus (Hanif) yang berpegang teguh pada naskah asli kitab-kitab suci Taurat dan Injil yang belum diubah. Ketika Nabi yang ketakutan menceritakan secara detail ciri-ciri sosok gaib (yang memeluknya hingga sesak di Gua Hira), Waraqah dengan ilmu tauhid lintas agamanya langsung membenarkan dan memastikan konfirmasi bahwa sosok gaib penuntut bacaan itu adalah Namus (Malaikat Jibril si Pemegang Wahyu Besar). Waraqah memberikan legalitas nubuat bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad adalah estafet risalah yang sama persis dengan yang pernah diterima oleh Nabi Musa di Gunung Sinai pada masa silam, sekaligus memprediksi penolakan sistematis yang akan dihadapinya.

Bagaimana nasib akhir dari piagam pemboikotan kejam kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim di Makkah?

Piagam pemboikotan sadis, buta, tak berperikemanusiaan yang berlangsung selama tiga tahun (menyebabkan bencana kelaparan besar mematikan pada klan Bani Hasyim dan Bani Muthalib) itu berakhir dengan intervensi mukjizat yang meruntuhkan logika. Allah SWT memerintahkan sekawanan rayap kecil tak kasatmata untuk menyusup ke Kakbah dan menggerogoti lembaran pakta yang digantung dengan sombong tersebut. Hewan kecil ini secara presisi memakan habis seluruh kalimat yang memuat pasal-pasal persetujuan kezaliman, pemutusan hak nasab, dan pengisolasian logistik, seraya—secara ajaib—menghindari dan hanya menyisakan asma/nama Allah SWT saja yang tertulis di awalan pembuka piagam. Tragedi berakhirnya boikot ini juga ditandai dengan fenomena dikabulkannya doa kutukan di mana tulang tangan Manshur bin Ikrimah (sang penulis piagam) menjadi lumpuh cacat permanen.

Kapan waktu spesifik rentetan kejadian mukjizat Isra Mikraj dan pembebasan spektakuler Makkah (Fathu Makkah) terjadi?

Peristiwa fisik-spiritual Isra Mikraj—yang di dalamnya termaktub perintah dan negosiasi historis salat wajib lima waktu (yang asalnya 50 waktu berkat usulan bijak Nabi Musa)—terjadi pada saat masa-masa umat Islam yang tertindas di Makkah terasa paling gelap dan putus asa. Tepatnya sekitar satu setengah tahun pasca wafatnya tameng dakwah Abu Thalib dan sang donatur Khadijah di Tahun Kesedihan. Sedangkan Fathu Makkah, sebuah epos penutup di mana Nabi Muhammad SAW kembali ke kota kelahirannya Makkah membawa kemenangan mutlak dengan kekuatan sepuluh ribu pasukan tanpa adanya pertumpahan darah balas dendam, berlangsung jauh di penghujung fase kenabian pasca hijrah, persisnya di bulan Ramadan tahun ke-8 Hijriah.

Bagaimana bentuk diplomasi dan interaksi ajaib antara Nabi Muhammad SAW dengan Suraqah yang mencoba membunuhnya di tengah gurun saat Hijrah?

Kisah ini menjadi demonstrasi paling nyata tentang mukjizat perlindungan instan dari Allah dan kemuliaan akhlak pemaaf sang Nabi yang melampaui dendam manusiawi. Suraqah, seorang ksatria yang gelap mata mengejar demi ambisi iming-iming hadiah sayembara 100 ekor unta dari Quraisy, seketika gagal membunuh karena kuda andalannya tiba-tiba amblas terperosok berulang kali ke dalam tanah keras akibat doa lembut Nabi. Menyadari ia di ambang kebinasaan, dalam kondisi mental yang runtuh dan ketakutan, ia meminta jaminan keselamatan politik/nyawa. Bukannya memerintahkan Abu Bakar menghabisi orang lemah yang baru saja berniat memenggal lehernya, Nabi Muhammad SAW dengan senyum tenang malah memaafkannya, mendoakan kebaikan, dan meramalkan Suraqah kelak akan memakai gelang kebesaran Raja Kisra. Suraqah pun membalas budi luhur itu dengan integritas tinggi; ia berbalik pulang sebagai perisai, sengaja mengelabui setiap detasemen pasukan musuh yang ia temui dengan keyakinan palsu bahwa jalan rute pesisir tersebut kosong dan ia sudah memutari wilayah itu tanpa hasil.

Referensi

Penjelasan dalam artikel di atas disadur dari, buku "Al-Kawâkib ad-Durriyyah fî Tarâjumi as-Sâdah ash-Shufiyyah", karya Muhammad Abdurrauf al-Munawi, Maktabah ad-Dar al-Arabiyyah li al-Kitab, Kairo, Vol. I, 2009, Hal. 83-92.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar